Premium Package Sharia Financial Planning

$492.95

ArRIJAL & Partner’ S adalah Konsultan Syariah Independen dalam jasa manajemen keuangan pribadi dan perusahaan & pengembangan pemasaran, serta SDM.

Sekaligus bekerjasama dengan pemasar produk beberapa lembaga keuangan dan memasarkan produk beberapa institusi bisnis sesuai dengan kebutuhan klien. Juga pelatihan untuk pengembangan human resource baik corporate (community training) maupun personal (public training)

Quantity

  • Security policy (edit with Customer reassurance module) Security policy (edit with Customer reassurance module)
  • Delivery policy (edit with Customer reassurance module) Delivery policy (edit with Customer reassurance module)
  • Return policy (edit with Customer reassurance module) Return policy (edit with Customer reassurance module)

Mengapa Perlu Ahli Perencanaan Keuangan Syariah?

Misalnya akad syariah murabahah leasing (jual beli dan sewa) kendaraan bermotor dibeli dari dealer harga 15 juta (tunai), karena dicicil lembaga pembiayaan menawarkan Rp 22 Juta dengan angsuran 600 ribu untuk 35 kali dengan Down Payment (DP) Rp 1 juta.

Sebenarnya konsumen harus membayar lebih mahal tidak hanya selisih kenaikan harga baru, namun juga harga setelah barang dimiliki (penyusutan harga produk konsumsi). Karena kendaraan tersebut jika dijual lagi paling laku 9 jutaan setelah 35 bulan. Artinya konsumen 2 kali rugi, pertama dari Rp 15 juta ke Rp 22 juta. Kedua, dari penyusutan nilai jual menjadi Rp 9 juta (15-9 juta = Rp 6 juta). Total nilai “kerugian secara uang” bagi konsumen sekira 13 juta atau setara 60%, yang jadi pertanyaan adalah benefit yang didapat dari cicilan tersebut apakah menjadi lebih dari 60%, artinya jika penghasilan Rp 1 juta saat mencicil dengan kendaraan tersebut 35 bulan kemudian setara/ naik menjadi 1,6 juta.

Bandingkan dengan membeli tunai, misalnya ongkos rata-rata Rp 300 ribu per bulan atau Rp 10 ribu per hari, kemudian sisihkan 300 ribu untuk diinvestasikan (ditabung). Jadi jika sudah 3 tahun (tabungannya sekira Rp 10.800.000, pokoknya saja, belum termasuk keuntungan investasi selama 3 tahun. Jika 30% setahun saja, setoran Rp 300 ribu sebulan bisa menjadi Rp 17 juta dalam 3 tahun). Maka di tahun ketiga, Anda sudah bisa memiliki kendaraan dengan membelinya seharga tunai (dari nilai pokoknya saja Anda mendapat kendaraan second, jika ditambah keuntungan investasi dan DP boleh jadi bisa membeli yang baru).

Walaupun untuk barang tertentu sangat tergantung dari kebutuhan dan kondisi seseorang di rumah maupun tempat kerjanya. Untuk karyawan operasional yang biasa dilapangan dan tidak difasilitasi kendaraan kantor, maka kendaraan boleh jadi menjadi kebutuhan yang mendesak, dibandingkan dengan karyawan yang back office. Menggunakan kendaraan umum untuk sementara waktu masih bisa menjadi pilihan sebelum memiliki dana yang cukup untuk membeli tunai.

Selain dasar perhitungan tadi, harus dipahami bahwa tidak semua cicilan menguntungkan. Mengapa? Ada beberapa produk konsumsi yang seharusnya dibayar dengan tunai, karena barang tersebut mengalami penyusutan nilai ekonomisnya (harga jual lebih rendah dibandingkan dengan harga beli), contoh peralatan rumah tangga seperti televisi, kulkas, kendaraan, dll.

Walaupun tidak semua barang konsumsi yang mengalami penyusutan ini bernilai konsumtif, artinya jika barang tersebut dimanfaatkan untuk hal yang produktif (memberikan nilai tambah/ value added terhadap pemasukan keuangan, atau mengurangi resiko harga pembelian diawal yang lebih tinggi dibandingkan harga kemudian hari setelah digunakan). Misalnya kendaraan yang digunakan untuk usaha pribadi atau direntalkan.
Jika mampu membeli tunai untuk barang konsumtif sebaiknya dilakukan, sehingga margin yang diambil oleh lembaga pembiayaan dapat dialihkan menjadi keuntungan investasi. Apalagi kebutuhan itu tidak muncul mendesak. Misalnya bisa menyisihkan Rp 600 ribu sebulan, dalam 2 tahun uang yang terkumpul sudah Rp 14,5 juta dan dalam 3 tahun menjadi Rp 22 juta. Itu baru dihitung pokoknya saja, belum ditambah keuntungan investasi.


Lain cerita jika uang yang disisihkan Rp 600 ribu tersebut digunakan untuk cicilan, keuntungan praktis dinikmati lembaga pembiayaan, belum lagi dari sisi investasi yang sama sekali tidak dimiliki selain barang yang diterima dimuka. Dalam keterikatan kewajiban (pengeluaran rutin), cicilan selain berdampak keuangan juga akan menguras energi, karena selama periode cicilan tersebut keuangan sudah dipangkas untuk membayar kewajiban tersebut. Jika terjadi masalah, keterlambatan bayar atau macet, dampaknya akan lebih buruk lagi, karena lembaga pembiayaan akan memaksa Anda untuk segera melunasinya.


Menentukan dicicil atau bayar tunai juga bisa melihat seberapa besar value added terhadap pendapatan, artinya barang tersebut merupakan investasi atau bukan. Jika Anda harus membayar 60% lebih tinggi dari barang tunai, sementara value added yang dihasilkan 100%, maka cicilan akan sangat membantu mengoptimalkan keuangan Anda. Artinya, ada sisa anggaran yang masih bisa digunakan untuk pos lainnya dibandingkan harus terkuras habis untuk membeli tunai.


Contoh, pendapatan 3 juta disisihkan untuk cicilan Rp 250 ribu untuk 12 kali, jauh lebih menguntungkan dibandingkan dibayar tunai 3 juta. Karena barang tersebut memberikan nilai tambah pendapatan naik 10% atau 100% dari cicilan atau pendapatan semula 3 juta menjadi 3,3 juta setiap bulannya. Value added juga bisa dinilai dari sudut pandang pengeluaran, misalnya terjadi efisiensi (pengurangan pengeluaran), semula pendapatan 3 juta dengan pengeluran Rp 1,8 Juta, setelah adanya barang tersebut pengeluaran menjadi Rp 1,5 juta. Maka cicilan Rp 300 Ribu otomatis tidak membebani biaya atau jadi tambahan pengeluaran, misalnya kendaraan bermotor untuk operasional kerja. Barakallahufiq.

Ingin dapat lebih lengkap? Hubungi Agus Rijal, S.E., CBA, CSFP,

Perencana Keuangan Syariah Independen. email; RIJAL1807@gmail.com)***

demo_13
300 Items